Tiba-tiba
aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat
panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu
seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan
dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara
itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah
semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar
langsung.
Dan
jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi
sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu
berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera
pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.
Serta
merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan
bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka
tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas
menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku
hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh
kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub,
seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.
Tempat
apa ini?
Di
mana?
Semua
orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang
laki-laki yang berdiri di sampingku berkata, “Inilah
padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.Padang
Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati.
Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan
ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum
menyaksikan kedahsyatan kiamat.
Aku
belum mati.
Tanpa
dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu
apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju
tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang
bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia.
Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat
seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di
balik jurang itu.“Itulah
neraka yang panas, di bawah sana,” kata lelaki tadi.
Neraka?
Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku.
Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti
kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk
surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala
dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis
dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq
sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang
sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku
dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya,
aku yakin aku akan masuk surga.
‘Ya
Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama
hamba-hambamu yang beriman,’ batinku
penuh harap.
Aku
semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang
kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati
api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia.
Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, di manakah dia? Kulihat sebuah pintu
yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang
dan dijaga banyak malaikat bersayap.
Kukira
itulah pintu surga.
“Lihat,
itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya
bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi
pikiranku.
Aku
mengangguk antusias.
Ya,
itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang
menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di
atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat
bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah
untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari
mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di
atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan
anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?
“Ya,
Rasulullah yang mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki
surga,” jelas lelaki tadi.
Aku
terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah.‘Ya
Rasul Allah, menolehlah,’ batinku.
Ingin
sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak
menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi.
Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah
yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka
melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya.
Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu
adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para
syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga
sambil tersenyum.
Antrian
melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah
agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang
bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat
orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam
neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu
kudukku berdiri tegak-tegak.
Lalu
kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh
dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya
karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan
pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi
anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki
surga.
Darahku
serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu?
Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang
yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku
yang seorang pendakwah dan dihormati umat?
Ada
yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu
membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga pengemis yang saban hari
menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian
yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu
menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua
orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.
Aku
menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku
menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga
sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap
hina memasuki surga tanpa halangan?
Karena
sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa
embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.
“Haekal
Jayadi.”
Dan
aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama
hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku
menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih
banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah
berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan kumasuki.
Tetapi
ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih
sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin
melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.
Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya.
Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?
Aku
malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.
Aku
shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan
di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan
gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud
lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku
dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat
indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk
mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku
bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu
terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh
pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling
mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak
ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku
manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan
berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak
mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari
perhatian bukan mengharap ridha Allah.
Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang
sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya
yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan
kikir.
Apakah
aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku
ini adalah benar.
Akulah
orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah
orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan
Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan
berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid
sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah
orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin Islam lain.
Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya
yang dianggap bid’ah itu.
Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan
dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau
sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah.
Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan
keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari
seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah
terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.
Tiba-tiba
namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu. Jembatan
itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut
itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu
hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila
lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas
dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh,
membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin
menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang.
Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka
bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi
tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu. Jadilah
aku bergelantungan menyedihkan.
Semakin
tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan
berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa
menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka.
Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api
neraka menjilati tubuhku.
Tiba-tiba
aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil
hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang
sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.
“Istigfar,
Jay, istigfar…” katanya.
Ternyata
banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru
ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai
pemberi materi untuk peserta.
Aku
mimpi buruk.
“Mimpi
apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.
“Habis
tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.
Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu
mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh
sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran
dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku
mendambakan surga-Mu, ya Allah.
Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina
dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat
mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku
gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata
mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.
“Kok
nangis? Kak Jay… ”
