Masa
lalu terkadang seperti pintu
Yang membuat kita terkurung dan
enggan bergerak maju
Suatu hari, seorang pengembara lewat
di sebuah hutan. Karena hari sudah malam, dan hujan pun turun lebat, ia
terpaksa mencari penginapan di desa terdekat. Untunglah ada, meski penginapan
tersebut hanya sebuah rumah bambu sederhana yang terdiri atas kamar-kamar.
Pengembara itu ditempatkan di kamar loteng, dengan jendela menghadap sebuah
areal pekuburan.
Pagi harinya ketika bangun, ia membuka jendela dan melihat seorang lelaki sedang menggali tanah di areal pekuburan. Karena penasaran, dihampirinya lelaki itu. “Anda hebat sekali, sudah bekerja di pagi buta,” pujinya, membuka percakapan.
Pagi harinya ketika bangun, ia membuka jendela dan melihat seorang lelaki sedang menggali tanah di areal pekuburan. Karena penasaran, dihampirinya lelaki itu. “Anda hebat sekali, sudah bekerja di pagi buta,” pujinya, membuka percakapan.
Lelaki itu menatapnya sekilas, lalu
kembali bekerja.
"Kenapa anda menggali tanah
ini?” tanya pemuda pengembara.
“Karena inilah tugas saya,” kata
lelaki itu. “Saya seorang penggali kubur. Sejak 20 tahun yang lalu.”
Pemuda itu sangat heran. Menurutnya, penggali kubur adalah profesi yang menyedihkan. “Kenapa anda mau menjalaninya?”
Pemuda itu sangat heran. Menurutnya, penggali kubur adalah profesi yang menyedihkan. “Kenapa anda mau menjalaninya?”
Lelaki itu berhenti menggali.
Diletakkannya cangkul di atas tanah. Lalu ia menunjuk ke arah tiga bukit kecil
di kejauhan. “Lihat, di antara tiga bukit itu ada sebuah rumah bobrok.”
Pengembara itu berdiri di
sampingnya, menatap sebuah rumah kecil yang sudah tua dan hampir roboh, tampak
suram di pagi yang dingin berkabut.
“Dulu, seorang petani yang
terpelajar tinggal di rumah itu, bersama anak lelakinya. Sang petani, meskipun
miskin, namun kekayaan ilmunya sangat luas, karena dia rajin membaca buku.
Setiap hasil taninya dibelikan buku-buku. Oleh sebab itu ia sangat dikenal dan
dihormati sebagai petani yang berilmu tinggi. Ketika anak lelakinya menginjak
usia dewasa dan mewarisi ilmu ayahnya, petani itu meninggal dunia.”
“Semua orang di desa itu hadir di
pemakaman. Mereka memberi penghormatan terakhir untuk sang ilmuwan desa. Lalu
setelah upacara pemakaman selesai, anak lelaki si petani kembali ke rumahnya
dan mendapati dirinya dicekam kesedihan dan kesepian. Anak lelaki itu akhirnya
memutuskan untuk menikah, agar rasa sepinya hilang.”
“Di desa itu ada tiga gadis kakak
beradik yang tersohor kecantikannya. Maria, si bungsu adalah gadis yang manja.
Adelaide, putri kedua, adalah gadis yang rajin. Dan Madelain, si sulung, gadis
yang pintar. Pemuda itu bingung memilih yang mana. Namun akhirnya ia memilih
Maria, si manja. Dua insan itupun menikah dan hidup bahagia.”
“Namun tak lama, Maria sakit, lalu
meninggal dunia. Si pemuda sangat sedih. Untuk menghapus dukanya, ia pun
menikahi Adelaide, si rajin. Sayang sekali, istri keduanya itu pun tak hidup
lama. Adelaide tewas karena sakit.”
“Lalu pemuda itu menikahi Madelain,
si putri sulung yang pintar. Mereka menikah dan mengenakan baju pengantin. Akan
tetapi ketika akad nikah usai digelar, di luar turun hujan, dan petir
menggelegar. Sang pengantin wanita tiba-tiba mengejang, tubuhnya hangus. Pemuda
itu memeluk istrinya dengan kaget dan sedih. ‘Kenapa istriku satu per satu
meninggalkanku?” ratapnya. ‘Maafkan aku,’ kata Madelain. ‘Akulah yang telah
membunuh kedua adikku. Aku meracuni Maria dan Adelaide, karena iri melihat
kebahagiaan di wajah mereka saat bersanding denganmu. Kini tubuhku disambar
petir, aku telah dikutuk Tuhan atas perbuatanku. Tuhan tidak setuju aku mereguk
kebahagiaan setelah menimpakan kesengsaraan pada kedua adikku.”
“Madelain pun tewas, seperti kedua adiknya. Jenazahnya dimakamkan di salah satu dari tiga bukit kecil, berdampingan dengan makam kedua adiknya di bukit-bukit kecil yang lain. Tiga bukit kecil itu adalah saksi bisu kisah cinta yang terjadi di rumah yang kini sudah bobrok itu. Demikianlah ceritanya.”
“Madelain pun tewas, seperti kedua adiknya. Jenazahnya dimakamkan di salah satu dari tiga bukit kecil, berdampingan dengan makam kedua adiknya di bukit-bukit kecil yang lain. Tiga bukit kecil itu adalah saksi bisu kisah cinta yang terjadi di rumah yang kini sudah bobrok itu. Demikianlah ceritanya.”
Si penggali kubur mengakhiri
kisahnya dengan helaan nafas berat.
“Lalu bagaimana dengan nasib pemuda
itu?” tanya pengembara.
“Pemuda itu? Oh, dia sekarang sedang
berdiri di samping anda!”
Pembaca, di sekitar kita, mungkin
ada orang-orang yang hidup menderita akibat deraan kepedihan di masa silam.
Seorang penyapu jalan, yang terpaksa menjalani profesinya karena di masa lalu
ia hanya mengecap pendidikan rendah. Seorang pengamen, yang mengamen karena
mencontoh masa lalu, yakni kedua orangtuanya yang berprofesi sama. Atau,
seorang penggali kubur, yang terpaksa melakoni pekerjaan melankolisnya, hanya
karena tragedi yang menimpa orang-orang tercinta di masa lalunya – seperti
dalam kisah di atas.
Bukan, bukan saya ingin memvonis
bahwa seorang penyapu jalan, pengamen, atau penggali kubur itu profesi yang
buruk. Tidak. Tanpa mereka, justru dunia ini mungkin tidak indah. Sampah akan
berserakan tanpa seorang penyapu jalan. Terminal bus menjadi sepi tanpa seorang
pengamen. Jenazah akan terlunta tanpa seorang penggali kubur. Namun, saya hanya
bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang begitu betah menjalani profesi tertentu
yang tidak menjamin kehidupannya? Apa yang menjadi kendala? Bukankah kita
semua, siapapun adanya, berhak untuk mengenyam pekerjaan dan penghidupan yang
lebih baik?
Di sekitar kita (semoga bukan kita), selalu ada orang yang menyalahkan masa lalu. Ia menganggap nasib getirnya bukanlah akibat kesalahannya, melainkan akibat masa lalunya. Sebagai contoh, “Ah, pantas saya jadi buruh tani, ayah saya juga dulunya hanya seorang petani.” “Kalau dulu saya diberi kesempatan, karir saya takkan stagnan seperti sekarang.” “Dulu saya kepingin jadi aktor, tapi sering dibilang jelek dan bodoh sama orang, akhirnya saya melepaskan cita-cita dan harus puas hanya menjadi tukang becak.”
Di sekitar kita (semoga bukan kita), selalu ada orang yang menyalahkan masa lalu. Ia menganggap nasib getirnya bukanlah akibat kesalahannya, melainkan akibat masa lalunya. Sebagai contoh, “Ah, pantas saya jadi buruh tani, ayah saya juga dulunya hanya seorang petani.” “Kalau dulu saya diberi kesempatan, karir saya takkan stagnan seperti sekarang.” “Dulu saya kepingin jadi aktor, tapi sering dibilang jelek dan bodoh sama orang, akhirnya saya melepaskan cita-cita dan harus puas hanya menjadi tukang becak.”
Teman, memang benar. Sebagian besar
dari kita merupakan produk masa lalu. Apa yang kita yakini dan alami di masa
lampau, itulah yang membentuk diri kita yang sekarang. You are what you used to be. Lingkungan masa kecil, pengalaman masa
remaja, pendidikan keluarga, sangat besar pengaruhnya dalam menciptakan diri
kita di masa kini. Kebiasaan yang terpatri di masa lampau, akan terbawa ke
dalam diri kita, dan bila kita tak mau melepasnya, itu akan menjadi citra diri
kita yang nyata.
Tentu kita tahu. Seorang anak yang
sering diperlakukan kasar, akan tumbuh menjadi nakal atau temperamental.
Seorang anak yang sering dilarang, akan tumbuh menjadi penakut atau pemberang.
Seorang anak yang tumbuh dengan kasih sayang cukup, akan menjadi orang yang
bahagia dan percaya diri.
Oleh sebab itu, mungkin bisa
dimengerti bila sebagian orang mengaitkan keberhasilannya sebagai efek dari
pengalaman masa lalu yang positif. Dan di sisi lain, mengaitkan kegagalannya
sebagai akibat pengalaman masa lalu yang negatif. Mari sekali lagi, kita dengar
ocehan berikut ini:
“Coba kalau orangtua saya kaya raya, pasti saya hidup senang, tidak miskin seperti sekarang.”
“Coba kalau orangtua saya bisa membiayai kuliah, saya jadi sarjana dan tidak nganggur kayak sekarang.”
Frase ‘coba kalau’ menyesaki angan, membuat kita punya alasan untuk menerima kenyataan, untuk menerima keadaan dan berhenti berjuang.
“Coba kalau orangtua saya kaya raya, pasti saya hidup senang, tidak miskin seperti sekarang.”
“Coba kalau orangtua saya bisa membiayai kuliah, saya jadi sarjana dan tidak nganggur kayak sekarang.”
Frase ‘coba kalau’ menyesaki angan, membuat kita punya alasan untuk menerima kenyataan, untuk menerima keadaan dan berhenti berjuang.
Haruskah demikian, Teman? Haruskah
kita terbelenggu masa silam? Menyalahkannya atas semua kenyataan pahit yang
menimpa diri kita? Menjadi alasan bagi kita untuk tenggelam dan tak mau mencari
jalan keluar?
Temanku, bila masa lalu yang negatif
terus menerus dijadikan kambing hitam atas semua gagal dan salah kita, tentu
kita tidak bijaksana. Mengapa? Sebab di luar sana, begitu banyak orang yang
justru bertindak sebaliknya. Mereka tidak tinggal diam menekuri masa silam.
Mereka berjuang menepis pahitnya kenangan, dan berupaya keras mengecap manisnya
keberhasilan. Siapa saja mereka? Tentu anda bisa menyebutkan beberapa nama.
Saya sendiri punya satu nama, yang meskipun tidak sempurna, namun dapat
dijadikan inspirasi dalam melepas belenggu masa lampau.
Wanita ini memiliki masa lalu yang
getir. Bahkan mungkin jauh lebih pahit daripada masa kecil kita. Ia seorang
anak perempuan yang lahir di luar nikah. Di usia 9 tahun, ia dilecehkan secara
seksual oleh seorang pamannya, dan di usia 11 tahun oleh pamannya yang lain. Di
usia 13 tahun, ia masuk penjara anak-anak nakal, lalu dikeluarkan karena tidak
ada tempat lagi di penjara. Di usia 14 tahun, ia mengikuti jejak ibunya,
melahirkan bayi di luar nikah, dan bayi itu mati prematur. Sebuah masa lalu
kelam, yang wajar bila membuatnya larut dalam kesedihan berkepanjangan. Namun
ternyata, ia tidak mau terbelenggu kepahitan. Ia berjuang melupakan masa lalu,
demi menapaki masa baru. Dengan warna kulit hitam yang minoritas, ia bekerja
keras agar tidak tenggelam di tengah kaum mayoritas. Sekarang, ia menjadi salah
satu wanita paling berpengaruh, paling sukses, dan paling dermawan di Amerika.
Oprah Winfrey, ya anda tahu dialah orangnya.
Ah, Teman. Mungkin kita tidak bisa
menjungkirbalik roda nasib 180 derajat, seperti yang dilakukan Oprah. Tapi, kita
bisa memulainya dari hal yang sederhana. Meraba ke dalam jendela-jendela kalbu,
masih adakah bayang-bayang masa lalu, yang membuat kita malas bergerak maju?
Bila ya, mari kita hapuskan itu.
Barangkali kita terbiasa dengan penderitaan, sehingga lama-lama menjadi kebal. Kita jadi betah terkungkung oleh kepahitan, betah tenggelam dalam kepedihan. Kita mulai senang berlama-lama dalam kenangan, enggan bangkit, dan mulai menikmati. “Biarlah saya begini, saya ‘nrimo’ kok, saya pasrah kok, saya bersyukur kok.”
Teman, hati-hati dengan kata
‘bersyukur’. Bersyukur tidak berarti diam atau mundur. Namun sebaliknya,
berusaha agar kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih bermanfaat, lebih
mendatangkan kemaslahatan untuk orang-orang di sekitar. Apakah itu akan terjadi
bila kita diam saja? Apakah itu akan terjadi bila kita menikmati masa lalu dan
menjadikannya tameng untuk berhenti berupaya? Tentu tidak, bukan?
Ya. Kita tidak boleh terlalu lama
menatap masa lalu. Sebaliknya, kita mulai memperhatikan apa yang kita perbuat
hari ini, untuk bekal esok nanti. Tidak menyesali apa yang telah terjadi, namun
menjadikannya cermin untuk memperbaiki diri. Itulah ciri-ciri orang yang
beriman. Melepaskan diri dari belenggu masa lalu, kemudian bergerak maju.
“….karena masa lalu dan masa depan hanyalah
permainan pikiran yang rumit.Hiduplah hari ini, karena hanya itulah yang anda
punyai.”
Masa lalu ibarat pintu yang harus
ditutup. Kita tak boleh berlama-lama memandangnya kalau tak ingin terkurung di
sana selamanya. Lepaskan pegangannya, kuncilah rapat-rapat, tutuplah tirainya.
Tinggalkan masa lalu yang mengekang itu, berfokuslah pada masa sekarang untuk
bekerja dan beribadah sebanyak mungkin selagi ada. Dengan memanfaatkan sebaik
mungkin hari yang kita miliki saat ini, kebahagiaan dan keberhasilan pun akan
menyongsong di esok hari.
Copyright © 2009 by Elie Mulyadi, tulisan ini dimuat di Majalah Hidayah edisi Maret 2009
Copyright © 2009 by Elie Mulyadi, tulisan ini dimuat di Majalah Hidayah edisi Maret 2009