Senin, 14 April 2014

Belajar “Bodoh” dari Forrest Gump



Novel karya Winston Groom ini akhirnya sukses besar setelah diangkat kesebuah layar lebar. Forrest Gump, film di tahun 1994, berhasil menggondol enam penghargaan dari Academy Award. Sepintas lalu kesan yang kutanggap ketika pertama kali menonton film ini adalah : aneh, lucu, ngawur. Dan memang benar adanya.

 Film ini bercerita tentang seorang pemuda idiot, bernama Forrest Gump diperankan oleh Tom Hanks- yang akhirnya mendapatkan keberuntungan-keberuntungan hidup yang luar biasa, justru karena keidiotannya. Kebodohan Forrest begitu nampak tidak hanya dari mimik wajah, bahasa tubuh dan kejadian-kejadian konyol dalam hidupnya. Tidak hanya itu, sang sutradara Robert Zemeckiz, juga merasa perlu untuk menyisipkan sebuah dialog unik yang selalu berulang.

"Are You stupid or something?"

Demikian pertanyaan yang sering dilontarkan lawan bicara Forrest, tentu lengkap dengan ekspresi sinis atau kening berkerut atau aneh. Untungnya Forrest yang memiliki seorang ibu yang begitu luar biasa, telah dilengkapi sebuah jawaban pamungkas-yang besar kemungkinan sebenarnya juga tidak dimengerti olehnya.

"Stupid is as stupid does". Kebodohan itu tergantung perbuatannya, kira-kira demikian.

Herannya meskipun sangat tolol, ia selalu saja beruntung. Hidup Forrest seakan sebuah mata uang, memiliki dua sisi yang berlainan. Kebodohan disisi yang satu, dan keajaiban disisi yang lain.

“Miracle happen everyday”, begitu kata ibunya.

Waktu kecil, Forrest yang sebenarnya memiki kelainan di kedua kaki nya, harus menggunakan sebuah alat bantu berjalan, yang membuat Forrest seolah sebuah robot aneh. Suatu saat, beberapa anak nakal melempari Forrest dengan batu, sambil meneriakinya Bodoh. Jenny sahabat Forrest menyuruhnya berlari. Run..Forrest..Ruuuuuuunnnnn !!!!. Forrest menurut. Dengan susah payah ia berusaha berlari. Dan keajaibanpun terjadi. Alat bantu berjalan berupa besi yang melingkari kedua kakinyapun, terlepas dan hancur berkeping-keping. Forrest berlari, tanpa tersusul oleh ketiga lawannya meskipun mereka bersepeda. Sejak saat itu Forrest tidak hanya dapat berjalan normal, tetapi juga berlari secepat angin.

Kejadian yang sama terjadi ketika Forrest dewasa. Tiga orang pemuda melemparinya dengan batu, meneriakinya bodoh. Run..Forrest Ruuuunnn!!. Adegan berulang. Hanya saja seekarang Forrest lari tunggang langgang bukan dikejar sepeda, tetapi mobil ! Tiba-tiba saja ia berbelok dia melintasi sebuah lapangan yang didalamnya tengah berlangsung pertandingan American Football. Forrest berlari disela-sela pemain, bahkan melewati seorang pemain yang tengah berlari memegang bola. Semua orang tercengang. Bukan hanya karena kecepatannya berlari, tetapi lebih karena kebodohan Forrest. Baru kali ini seseorang berlari demikian tidak perduli, melintasi suatu pertandingan. Keajaiban terjadi kembali. Salah seorang pelatih merekrut Forrest menjadi pemain. Forrest menjadi bintang lapangan. Bintang lapangan yang aneh. Ia akan terus berlari tidak terkendali dan tanpa pernah tahu dimana harus berhenti. Forrest mendapat beasiswa, dan menamatkan college, hanya dengan cara sesederhana itu.

Forrest kemudian memutuskan untuk mengikuti wamil. Menjadi tentara. Ia dan sahabatnya Bubba dikirim berperang ke Vietnam. Pada suatu saat pasukan mereka disergap oleh tentara Vietkong. Tiba-tiba seseorang berteriak Ruuuunnnn!!!. Forrest berlari tanpa memperdulikan sekitar. Hanya berlari. Ternyata sebagian besar dari mereka tewas, sedangkan Forrest hanya tertembak di bagian pantatnya saja. Keajaiban terjadi lagi. Ia berhasil menyelamatkan beberapa rekannya termasuk Leutenant Dan, yang akhirnya menjadi patner bisnisnya dikemudian hari. Untuk itu negara menganugerahinya penghargaan.

Begitu seterusnya. Kebodohan dan keajaiban itu selalu berpasangan hingga akhirnya Forrest memiliki perusahaan besar, menikah dengan Jenny, bahkan memiliki anak yang cerdas. Tidak sama dengan ayahnya.

Forrest tidak pernah mengklaim karena aku, ia selalu menggunakan kata “and just like that” atau dengan kata lain “bukan aku”, tetapi sesuatu di luar sana. Sesuatu yang berada jauh mengatasi logika. 

Mungkin film itu terlalu menyederhanakan sesuatu dan melebih-lebihkan yang lain. Tetapi Forrest Gump memberikan kita banyak pelajaran, terutama bagaimana TUHAN mendesain hidup ini dengan sentuhan keajaiban-Nya.

TUHAN memberikan kita sebuah senjata yang jauh lebih dahsyat, yaitu Hati. Dengan hati, kita tahu bahwa kita tidak akan pernah berjalan seorang diri. Dengan hati, hidup terasa begitu indah. Dengan hati pulalah hidup menghadirkan sentuhan-sentuhan penuh keajaiban.