Penulis :
Harper Lee
Penerbit :
Qanita
Jumlah Halaman :
568
Kategori :
Drama
Text Bahasa :
Indonesia
“To Kill a Mockingbird “
Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka
Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi
pembela seorang pemuda kulit hitam. Saat Atticus Finch membela seseorang yang
diangap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di
tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa
kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan
manusia. Dan bahwa keadilan tidak selalu bisa ditegakkan.
Kisah antara orang tua dan
putra-putrinya di Alabama ini banyak mengajarkan bagaimana menjalani peran
dalam posisi masing-masing. Jika selama ini, orang tua dan anak sekaligus,
lebih banyak yang memiliki mindset bahwa anak adalah objek dalam hubungan
dengan keluarga, di sini kita akan dikenalkan dengan keterbukaan yang sangat.
Bahwa anak, sedini apa pun usia mereka, memiliki hak untuk mengetahui apa yang
terjadi dalam keluarganya.
Adalah Atticus Finch, ayah
seorang putra dan putri, Jeremy Finch dan Jeane Louis alias Scout, yang
mendidik mereka untuk bertanggung jawab atas setiap hal yang terjadi pada diri
mereka sendiri dan di rumah. Novel ini ditulis dari sisi Scout, seorang gadis
berusia delapan tahun. Abangnya, Jeremy alias Jem, berusia sekitar lima tahun
di atasnya dan ayahnya seorang pengacara yang membela orang kulit hitam. Warna
kulit yang saat itu masih berada dalam level kelas bawahan alias budak yang
sangat parah.
Mereka tinggal di sebuah perumahan
di salah satu kota di Alabama. Scout selalu merasa bahwa ayahnya bersikap
sangat adil terhadap dia dan abangnya. Mulai dari menyikapi tingkah lakunya
yang kekanakkan, karena dia memang anak-anak, sampai pada hal di mana dia harus
bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan. Termasuk bagaimana ayahnya
menjelaskan apa yang sedang dia lakukan dalam pembelaan terhadap seorang warga
kulit hitam yang tersangkut hukum. Saat itu, Scout dan Jem dicela oleh semua
anak seusia mereka, bahkan orang tua, atas tindakan Atticus membela orang kulit
hitam yang dinilai nista.
Kondisi itu melibatkan benturan
fisik, dan psikologis (mental) bagi Jem dan Scout. Tapi ayah mereka, Atticus,
dengan tenang dan cerdas menjelaskan bahwa dirinya melakukan apa yang
seharusnya dilakukan. Scout dan Jem pun tumbuh menjadi anak yang lebih cerdas
dan terbuka di usianya yang masih belia. Bahkan Scout harus merasa bosan di
tahun pertama dan seterusnya sekolah karena dia harus menahan diri untuk
mempelajari sesuatu di sekolah. Padahal di rumah, dia sudah mahir membaca koran
yang menjadi langganan Atticus.
Sebagai ayah, Atticus di dalam
novel ini digambarkan sebagai seseorang yang sangat memahami dan bertanggung
jawab penuh atas pertumbuhan dua anaknya. Sampai suatu hari adik kandung Atticus,
yang merupakan bibi dua bocah itu tinggal di rumahnya untuk merawat mereka.
terjadi pertentangan antara cara Atticus membesarkan anak-anaknya dengan
pandangan si bibi tentang bagaimana mengurus anak-anak.
Pertentangan Atticus dan bibi
Alexandra salah satunya tergambar dari pernyataan Atticus, “Ini rumah mereka,
Dik. Kitalah yang menciptakan situasi ini bagi mereka, selayaknya mereka
belajar menanganinya.”
Atticus sebenarnya berusaha
menutupi apa yang terjadi dengan keluarganya kepada kedua anaknya sebisa
mungkin. Tapi jika pun akhirnya kedua buah hatinya itu tahu, baik sengaja mau
pun tidak, Atticus akan dengan jernih menjelaskana apa yang terjadi. Ini yang
membuat Jem dan Scout dianggap ada dan bernilai di mata Atticus. Bukankah tidak
ada yang lebih bernilai dalam hidup ini selain dianggap ada oleh orang tua? Hal
yang sulit ditemukan oleh banyak anak.
*Novel ini pernah mendapatkan Pulitzer pada tahun 1961 dan terus
menjadi novel Best-Seller hingga kini
sumber: Bukukita.com
