Jiwa yang sejahtera menggambarkan
seberapa positif seseorang menghayati dan menjalani fungsi-fungsi
psikologisnya. Peneliti psycho-logical well-being, Ryff (1995) menyatakan,
seseorang yang jiwanya sejahtera apabila ia tidak sekadar bebas dari tekanan
atau masalah mental yang lain. Lebih dari itu, ia juga memiliki penilaian
positif terhadap dirinya dan mampu bertindak secara otonomi, serta tidak mudah
hanyut oleh pengaruh lingkungan.
ADAKAH manusia yang tak ingin
bahagia? Andaikan pun ada, pasti sangat sulit ditemukan. Bahkan, ketika
menyaksikan sepenggal kisah kehidupan manusia dalam film yang notabene sengaja
dibuat, penonton berharap-harap pada suatu happy ending, yakni akhir cerita
bahagia. Sebagian orang menganggap kebahagiaan bersifat relatif, sehingga
ukuran bahagia bagi setiap orang berbeda satu sama lain. Kebutuhan uang
mendorong orang bertekun mencari dan memperolehnya. Berbagai cara pun ditempuh,
termasuk korupsi. Setelah memenuhi seluruh kebutuhannya, dapatkah yang
bersangkutan disebut bahagia?
Bayangkanlah suatu keadaan saat Anda
tidak dipenuhi berbagai tugas, kewajiban, dan tanggung jawab. Tidak ada
tagihan-tagihan, tidak ada rencana berlibur atau membeli sesuatu yang cukup
mahal, tidak ada tenggat yang mengejar. Juga tidak ada jadwal rapat yang padat
atau deretan daftar janji, dan sebagainya. Apabila dibandingkan dengan keadaan
ketika semua itu memenuhi keseharian Anda, manakah yang paling membahagiakan?
Wajar jika Anda kesulitan menentukan pilihan.
Sebab
bahagia itu relatif dan tidak terukur…..
Bahagia dan Puas
Sebelum menemukan cara berbahagia,
ada baiknya menyamakan paradigma bahagia terlebih dahulu. Keadaan bahagia
sering kali diasosiasikan dengan puas. Kendati kedua hal itu memiliki ukuran
yang sangat berbeda. Tak jarang orang menyatakan dirinya berbahagia pada saat
ia merasa puas telah memperoleh apa yang diinginkannya. Bahagia yang dimaknai sebagai kepuasan memang bersifat relatif. Puas bagi seseorang belum
tentu dapat diukurkan bagi orang lain. Ada yang sudah puas memiliki sepuluh
keping, tapi yang lain belum. Sebaliknya, bahagia yang sejati justru dapat
diterima oleh semua orang. Indikasi kunci dari perasaan bahagia adalah
kesejahteraan psikis (psychological well-being).
Jiwa yang sejahtera menggambarkan
seberapa positif seseorang menghayati dan menjalani fungsi-fungsi
psikologisnya. Peneliti psychological well-being, Ryff (1995) menyatakan,
seseorang yang jiwanya sejahtera apabila ia tidak sekadar bebas dari tekanan
atau masalah mental yang lain. Lebih dari itu, ia juga memiliki penilaian
positif terhadap dirinya dan mampu bertindak secara otonomi, serta tidak mudah
hanyut oleh pengaruh lingkungan. Tentu saja orang tersebut memiliki hubungan
yang positif dengan orang lain, menyadari bahwa hidupnya bermakna dan
bertujuan. Ia merasakan dirinya tetap berkembang dan bertumbuh, serta mampu
menguasai lingkungannya.
Kebahagiaan seseorang mempengaruhi
sekelilingnya secara positif karena orang yang bahagia memancarkan energi
positif. Sedangkan puas tidak mempunyai makna sedalam itu. Sebab perasaan puas
lekas surut, kemudian muncul kembali tuntutan pemuasan terhadap rasa tidak puas
yang lain. Begitu seterusnya, lingkaran puas-tidak puas itu berputar. Puas
berarti terpenuhinya kebutuhan pada level tertentu, padahal kebutuhan manusia
terus meningkat, sehingga puas tidak pernah benar-benar tercapai.
Puas berorientasi pada hasil,
sedangkan bahagia adalah proses mengisi hidup secara bermakna. Bahagia
mengandung makna kenikmatan tertinggi, dibandingkan dengan puas yang cenderung
berupa kenikmatan temporer dan fluktuatif. Ambil contoh perilaku makan. Hal
biasa yang dilakukan orang terkait kebutuhan primer. Ketika merasa lapar, orang
segera menyantap makanan yang tersedia dengan lahap, lalu merasa kenyang.
Nikmat dan nyaman sesaat terlepas dari lapar merupakan satu bentuk kepuasan.
Berbeda ketika pertama-tama orang
mensyukuri makanan yang terhidang di hadapannya. Selanjutnya ia mulai mengunyah
perlahan-lahan, sembari merasakan sensasi dari setiap rasa yang menyentuh
rongga mulut, lidah, tenggorokan, bahkan seolah-olah merasakan perjalanan
makanan di ruang lambung. Kenikmatan menyentuh seluruh indra hingga ke
perasaan, sehingga setiap kali memperoleh makanan, orang ingin mengulang
sensasi tersebut. Cara ini mengubah makna makan lebih dari sekadar mengisi
perut dan merasa kenyang.
Nikmatnya tidak terletak pada
variasi menu makanan, rasa atau banyaknya makanan yang tersedia. Namun lebih
pada saat berlangsungnya proses makan itu sendiri. Cara menyantap dan menikmati
sensasi di seluruh raga dan rasa, menghadirkan perasaan puncak yang tak
tertandingi. Bahkan, oleh harga makanan maupun rasa kenyang. Demikianlah
kira-kira keadaan ini beranalogi dengan bahagia.
Kebahagiaan dapat mempengaruhi
lingkungan. Pernahkah kita yang sedang tidak lapar tiba-tiba tergiur untuk
menikmati makanan yang tengah disantap seseorang di dekat kita? Sebabnya bukan
karena kita tahu makanan itu enak atau mengenyangkan, tapi orang yang sedang
makan itu tampak sangat menikmati. Rasa kenyang seseorang tidak dapat dinikmati
orang lain. Namun kenikmatan yang tertangkap pada orang yang bersantap
menggugah orang-orang di sekelilingnya.
Meraih Bahagia
Cara berbahagia adalah upaya meraih
kebahagiaan. Bahagia berarti mencapai kesejahteraan psikis pada setiap kondisi
dan situasi. Hidup tidak hanya hitam dan putih, namun dipenuhi beragam warna.
Berbagai situasi dan kondisi hidup, entah itu senang, susah, biasa-biasa,
rutin, monoton, semua harus bisa dan berani dihadapi. Berpijak pada
uraian-uraian sebelumnya, paradigma, dan pemahaman bahagia, merupakan langkah
untuk memiliki bahagia.
Pertama, bahagia bukan tujuan, tapi
proses. Adalah sia-sia jika seseorang menempatkan bahagia di ujung harapan,
lalu berangan menggapainya. Upaya ini rentan mendekatkan manusia pada kondisi
depresi. Bahagia ada di dalam proses hidup, apa pun tujuan kepuasan yang ingin
dicapai. Dengan menikmati setiap gulir waktu, peristiwa, persoalan, pemecahan
masalah, maka bahagia dengan sendirinya telah dimiliki. Pada saat orang mampu
memberi makna positif pada setiap detail kehidupannya, maka ia memiliki
bahagia. Makna positif itu adalah membiarkan seluruh diri melebur di dalam
waktu. Melepaskan kecemasan dan ketakutan, membebaskan pikiran dari upaya-upaya
pembelaan diri yang kaku. Merasakan denyut nadi, detak jantung, dan aliran
darah, secara alamiah, hingga melonggarkan manusia dari pola-pola tidak sehat.
Menyerahkan jiwa sepenuhnya pada proses kehidupan yang tengah bergulir atau
dengan kata lain pasrah.
Kedua, bahagia memiliki kekuatan
resonansi. Kebahagiaan yang dimiliki seseorang akan dapat menggetarkan
sekelilingnya, sehingga orang lain turut merasakannya dan memiliki bahagia.
Cara kita menikmati proses demi proses kehidupan adalah inspirasi bagi orang
lain. Berbuat sesuatu yang inspiratif seharusnya jauh dari perbuatan buruk, melanggar
norma ataupun merugikan orang lain. Menginspirasikan nilai hidup positif bagi
orang lain adalah kebahagiaan. Apabila kebahagiaan seseorang menimbulkan
prasangka buruk di dalam lingkungannya tentu saja nilai kepuasan akan hilang.
Namun proses yang dibiarkan mengalir didasari niat tulus dan jiwa tenang
beralaskan prinsip adalah bahagia yang menetap, waktulah yang bertugas
menjawabnya.
Ketiga, keadaan bahagia bukannya
tanpa kesulitan hidup. Keliru besar jika seseorang ingin memiliki bahagia
dengan cara menjauhi masalah-masalah kehidupan. Justru kebahagiaan menyusup,
ketika dengan berani, pribadi matang, pengendalian diri, dan dengan bijak,
orang menghadapi persoalan hidup. Barangkali ada yang bertanya, bagaimana
mungkin saya berbahagia pada saat orang yang sangat saya kasihi pergi
meninggalkan saya untuk selama-lamanya? Kenapa tidak mungkin? Ketika Anda
menangis, bersedih, meratap, pasti Anda tahu bahwa ada kondisi kebalikannya.
Menyadari betapa beruntungnya Anda pernah memiliki saat-saat indah bersamanya,
merupakan proses bahwa Anda bahagia memiliki semua, baik di saat senang maupun
saat susah.
Keempat, materi bukan ukuran
kebahagiaan. Jika bahagia semata materi, maka depresi pun mengintai jiwa
manusia. Orang akan terjebak pada lingkaran puas-tidak puas. Bahagia adalah
perasaan cinta yang dibiasakan dan dipilih setiap orang, sehingga mencari cara
untuk berbahagia dengan memiliki seluruh dunia adalah sia-sia. Bahagia bukan
hal yang relatif, namun adalah karakter yang dibangun dari kebiasaan orang
dalam proses mengisi hidup agar sungguh-sungguh bermakna. Menikmati hidup dengan tidak memusatkannya pada situasi dan kondisi
yang baik atau buruk. Setiap orang bebas memilih untuk mau berbahagia atau
tidak. Apabila orang sungguh-sungguh ingin berbahagia maka ia tahu bahagia
sudah dimilikinya.
(Rinny S-SuaraPemb).